Masyarakat Lampung Barat meyakini bahwa kepercayaan tentang pemujaan terhadap roh nenek moyang, leluhur pada masa prasejarah dan dewa-dewa pada masa pengaruh Hindu terjadi. Begitu pula dengan pertunjukan Sakura sebagai media ritual untuk persembahan. Sampai sekarang pun masih ada sebagian masyarakat Liwa melakukan dia ketika pertunjukan sakura ditampilkan pada bulan syawal, hari raya Idul Fitri.

Pesta Budaya Sekura adalah pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri biasanya mulai dari 1 Syawal sampai 6 atau 7 Syawal setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lain.

Pesta Budaya Sekura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berexpresi.

Sekura dalam kebudayaan ini artinya topeng/penutup wajah atau merubah penampilan yang menggambarkan berbagai bentuk sifat dimuka bumi ini tapi dalam pesta sekura ini penggambaraanya adalah suasanya kegembiraan dan kebebasan berkreasi dalam kebersamaan berkelompok.

Pesta budaya sekura secara definisi merupakan perayaan atau ungkapan kegembiraan masyarkat secara bersama-sama dengan bertopeng (menutup wajah) dan merubah penampilan sedemikian rupa yang sifatnya menghibur serta bertujuan utama bersilaturahmi yang berpuncak pada panjat pinang secara berkelompok dengan sistim beguai jejama (gotong royong).


Foto diambil dari akun Instagram @endangguntorocanggu


Disadur oleh Tim GeoEnsiklopedia dari :
1. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id


Cintai Mahakarya Nusantara
#geonusantara
#geoensiklopedia
#geo0272uber