Minang dengan Sistem Matrilineal Terbesar di Dunia

February 23, 2018

Dalam adat dan budaya Minang, agar kecintaan dan penghargaan kepada kaum wanita selalu hidup dalam jiwa kaum pria, adat menetapkan silsilah keturunan mengambil garis keturunan Ibu, yang disebut sistem matrilineal.

Adat Minangkabau memang memahami kalau perempuan memiliki derajat yang tinggi. Ada hak-hak besar yang biasanya diperoleh laki-laki, namun bagi masyarakat Minang hak tersebut diperoleh kaum perempuan. Setidaknya ada dua jenis hak yang diperoleh perempuan Minang: material dan moral.

Bagi masyarakat Minang, ibu adalah Bundo Kanduang. Kehadiran seorang perempuan dalam sebuah keluarga menjadi hal yang amat penting karena sebagaimana sudah disebutkan, dalam kekerabatan matrinileal garis kerutunan mengikuti garis keturunan ibu. Jika suatu keturunan tidak ada keturunan perempuan maka bisa dikatakan garis keturunan keluarga tersebut terputus.

Di sini, seorang perempuan dewasa atau ‘ibu’ adalah¬†limapeh rumah nan gadang, sumarak dalam nagari. Ibu punya kedudukan sebagai bundo kanduang, sebuah lambang kehormatan dalam kaum dan dalam nagari. Ibu menjadi hiasan dalam kampuang yang tercermin dari kepribadiannya yang sopan santun dan baik budi pekerti.

Lalu, dari segi materi, perempuan atau ibu merupakan pemilik harta pusaka, yakni warisan yang menurut adat Minangkabau diterima dari mamak kepada kemenakan. Maka, ibu harus menjaga keutuhan harta pusaka ini. Meski begitu, laki-laki juga diberi kewajiban untuk mengembangkan harta pusaka tersebut.

Menurut A.A Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki serta menganut sistem adat yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. Masyarakat Minang bertahan sebagai penganut matrilineal terbesar di dunia.


Foto diambil dari akun Instagram @minang_graphy


Disadur oleh Tim GeoEnsiklopedia dari :
1. ://www.goodnewsfromindonesia.id


Cintai Mahakarya Nusantara
#geonusantara
#geoensiklopedia
#geo0277uber

Perang Perayaan Musim Panen Sumba

Demi Emas di Papua, CIA Gulingkan Soekarno dan Kennedy

Kenapa Semua Fotografer Harus Mempunyai Lensa 50 mm